Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas, menjadikannya rentan terhadap berbagai ancaman maritim, mulai dari pencurian ikan ilegal, penyelundupan, hingga pelanggaran batas wilayah. Di sinilah peran Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) menjadi sangat vital sebagai tulang punggung Strategi Pertahanan Maritim nasional. Armada KRI merupakan garda terdepan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dalam menegakkan hukum di laut dan mempertahankan keutuhan wilayah perairan Nusantara.
Pembangunan Strategi Pertahanan Maritim Indonesia didasarkan pada konsep pertahanan berlapis, di mana KRI menempati posisi sentral. Berbagai jenis KRI dirancang untuk menghadapi ancaman yang berbeda. Fregat seperti KRI Raden Eddy Martadinata, misalnya, adalah kapal tempur multifungsi yang mampu melakukan perang anti-kapal selam, anti-udara, dan anti-kapal permukaan. Kapal-kapal ini dilengkapi dengan sistem persenjataan modern seperti rudal Exocet MM40 Block 3 dan torpedo. Keberadaan fregat adalah bagian integral dari Strategi Pertahanan Maritim untuk mencegah niat buruk pihak asing.
Selain fregat, korvet dan kapal cepat rudal (KCR) juga menjadi komponen penting dalam Strategi Pertahanan Maritim. Korvet, seperti KRI Frans Kaisiepo, ideal untuk patroli di wilayah perbatasan dan pengawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang rawan pelanggaran. Sementara itu, KCR seperti KRI Sampari, dengan kecepatan tinggi dan daya pukul rudal yang mematikan, berfungsi sebagai deterrent dan kekuatan respons cepat terhadap ancaman mendadak. Pada latihan gabungan TNI AL pada akhir April 2025 di Laut Natuna Utara, KRI Suharso yang berfungsi sebagai kapal bantu rumah sakit juga turut terlibat dalam simulasi dukungan logistik dan evakuasi medis di tengah operasi.
Tugas KRI tidak hanya terbatas pada operasi militer. Dalam kerangka Strategi Pertahanan Maritim yang komprehensif, KRI juga sering dilibatkan dalam misi kemanusiaan dan pencarian serta penyelamatan (SAR). Contohnya, kapal Bantu Rumah Sakit seperti KRI dr. Wahidin Sudirohusodo aktif memberikan pelayanan kesehatan di pulau-pulau terpencil dan menjadi ujung tombak bantuan saat bencana alam.
Dengan modernisasi alutsista yang terus berjalan dan pelatihan personel yang intensif, armada KRI terus diperkuat. Hal ini memastikan bahwa Indonesia memiliki kekuatan maritim yang tangguh dan mampu menjaga kedaulatan serta keamanan perairan yang merupakan urat nadi kehidupan bangsa.
