Dalam setiap operasi darat, senjata infanteri adalah alat paling personal dan krusial bagi setiap prajurit. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dilengkapi dengan beragam senjata infanteri yang dirancang untuk berbagai skenario tempur, mulai dari senapan serbu standar hingga senapan mesin berat. Kemandirian dalam produksi senjata infanteri menjadi salah satu prioritas, ditandai dengan peran signifikan PT Pindad sebagai produsen utama.
Senjata infanteri utama bagi prajurit TNI AD adalah senapan serbu SS2 (Senapan Serbu 2) yang diproduksi oleh PT Pindad. SS2 merupakan pengembangan dari SS1, dirancang dengan ergonomi yang lebih baik, akurasi tinggi, dan bobot yang lebih ringan. Varian SS2 seperti V1 (standar), V2 (laras pendek), dan V4 (varian penembak jitu) memberikan fleksibilitas untuk berbagai peran tempur. Senapan ini telah teruji dalam berbagai medan operasi, termasuk dalam misi perdamaian PBB, dan mendapatkan pengakuan internasional atas keandalan dan akurasinya. Pada Lomba Tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 2024, tim TNI AD yang menggunakan SS2 berhasil meraih sejumlah medali emas, membuktikan kapabilitas senjata ini.
Selain senapan serbu, senjata infanteri TNI AD juga mencakup pistol, yang menjadi senjata genggam standar bagi perwira dan beberapa spesialis. PT Pindad juga memproduksi pistol G2 Combat dan G2 Premium yang banyak digunakan oleh TNI AD. Pistol ini dikenal karena daya hentinya yang baik dan akurasi pada jarak dekat.
Untuk dukungan tembakan yang lebih berat, TNI AD mengandalkan berbagai jenis senapan mesin.
- Senapan mesin ringan (SMR) seperti SM2 (varian lokal dari Minimi) memberikan daya tembak tambahan bagi regu infanteri.
- Senapan mesin sedang (SMS) seperti SMB (Senapan Mesin Berat) Kaliber 7.62mm dan SM5 Kaliber 12.7mm digunakan untuk memberikan tembakan suppressive dan anti-personel/anti-material dari jarak menengah. Senapan mesin berat sering dipasang pada kendaraan taktis atau digunakan dalam posisi bertahan.
Tidak hanya senjata api, senjata infanteri juga mencakup alat anti-tank dan peluncur granat. TNI AD memiliki peluncur granat otomatis (misalnya Pindad SPG-1) serta berbagai jenis senjata anti-tank ringan seperti Carl Gustaf atau rudal anti-tank portabel, yang vital untuk menghadapi ancaman kendaraan lapis baja lawan. Semua alutsista ini dirawat dan dioperasikan oleh prajurit-prajurit terlatih yang terus-enerus menjalani latihan intensif untuk memastikan kesiapan tempur mereka.
