Keberhasilan penugasan prajurit di kawasan pedalaman sangat bergantung pada kemampuan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar lokasi penempatan. Pemanfaatan bahan pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian menjadi solusi strategis pengganti beras saat terjadi keterlambatan pasokan logistik. Para calon perwira dibekali pengetahuan mengenai teknik pengolahan tanaman liar yang aman dikonsumsi di tengah belantara hutan hujan tropis. Pengetahuan bertahan hidup ini sangat krusial dalam menjaga ketahanan fisik dan kelangsungan hidup pasukan di daerah penugasan.
Pengolahan pati tanaman sagu menjadi makanan padat gizi terbukti mampu menyuplai energi yang tahan lama bagi fisik prajurit. Kandungan indeks glikemik yang rendah membuat sumber energi diserap tubuh secara bertahap sehingga pasukan tidak cepat merasa lapar. Penggunaan umbi bakar khas pegunungan juga menjadi alternatif karbohidrat bergizi tinggi yang sangat mudah didapatkan di sekitar permukiman warga. Pemanfaatan bahan pangan lokal ini terbukti memperkuat kemandirian logistik pasukan di medan tugas yang terisolasi.
Instruktur keahlian bertahan hidup Akademi Militer mengajarkan metode mengenali jenis umbi-umbian beracun dan tata cara penetralannya secara tradisional. Taruna diajak berinteraksi langsung dengan warga suku lokal untuk mempelajari kearifan lokal dalam memanfaatkan kekayaan alam hutan Papua. Hubungan harmonis dengan masyarakat setempat mempermudah prajurit dalam mendapatkan pasokan bahan makanan segar yang menyehatkan tubuh. Sinergi pengetahuan militer dan kearifan lokal ini menciptakan ketahanan pasukan yang sangat tangguh di lapangan.
Dampak dari penerapan pola konsumsi hasil bumi daerah ini adalah meningkatnya daya tahan tubuh prajurit terhadap serangan penyakit endemic hutan. Fisik taruna menjadi lebih adaptif dengan lingkungan tropis yang lembab dan medan pegunungan yang sangat terjal dan berbukit. Penghematan biaya pengiriman logistik beras dari luar pulau dapat dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan peralatan operasional militer lainnya. Kemandirian pangan berbasis potensi daerah terbukti menjadi strategi pertahanan yang sangat efektif dan efisien.
Diharapkan riset mengenai kandungan gizi tanaman hutan Nusantara dapat terus ditingkatkan oleh lembaga penelitian militer bekerja sama dengan perguruan tinggi. Hasil pengkajian ini akan makin memperkaya khazanah ilmu ketahanan hidup prajurit TNI di seluruh wilayah perbatasan NKRI. Keterampilan memanfaatkan kekayaan alam lokal merupakan wujud keunggulan prajurit profesional yang menyatu dengan alam dan rakyat. Penggunaan bahan pangan lokal terbukti mendukung kesiapan tempur prajurit dalam menjaga kedaulatan negara.
